Soppeng, newspost. web. id, — Ada pemandangan berbeda yang membuat suasana konsolidasi Partai Golkar di Kabupaten Soppeng mendadak terasa hangat, cair, dan penuh tawa. Di tengah ramainya agenda politik dan hadirnya sejumlah petinggi partai, masyarakat justru dibuat tersenyum oleh satu momen sederhana namun membekas di hati. Soppeng Sabtu. 6/5/2026 Gedung La Patau Soppeng
Ketua Golkar Soppeng tampak santai mengemudikan odong-odong untuk mengantar para tokoh partai menuju lokasi kegiatan. Tidak ada kesan kaku. Tidak ada jarak. Yang terlihat justru gelak tawa, lambaian tangan warga, dan suasana penuh kebersamaan layaknya pesta rakyat.
Momen itu sontak menjadi bahan perbincangan hangat di mana-mana. Dari warung kopi hingga sudut-sudut kampung, masyarakat ramai membicarakan suasana yang dianggap menghadirkan kembali nuansa kepemimpinan yang merakyat dan membumi.
Banyak warga spontan teringat pada sosok Andi Kaswadi Razak atau yang akrab disapa “Fung Aji Dulli”, figur yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat kecil dan mampu bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang sosial.
“Baru kali ini suasana politik terasa adem dan menghibur. Melihat pemimpin tertawa bersama rakyat itu sederhana, tapi hangat sekali rasanya,” ujar seorang warga.
Odong-odong yang biasanya hanya menjadi hiburan anak-anak mendadak berubah menjadi simbol kedekatan sosial. Warga yang menyaksikan iring-iringan itu tampak antusias mengabadikan momen dengan ponsel mereka. Bahkan banyak yang menyebut suasana tersebut sebagai “politik paling santai tapi paling menyentuh”.
Di sejumlah warung kopi, nostalgia lama kembali mengalir. Cerita tentang gaya kepemimpinan yang suka turun langsung, mudah diajak bercanda, dan tidak membangun sekat dengan masyarakat kembali hidup dalam obrolan ringan warga.
“Dulu pemimpin terasa seperti keluarga sendiri. Bisa duduk ngopi bersama, bercanda tanpa canggung. Itu yang sekarang dirindukan masyarakat,” kata seorang tokoh masyarakat.
Yang menarik, suasana itu justru memberi pesan kuat bahwa politik tidak selalu harus identik dengan ketegangan dan persaingan. Dalam kesederhanaan dan canda tawa, masyarakat melihat nilai persaudaraan, kebersamaan, dan kerendahan hati seorang pemimpin.
Bagi banyak warga Soppeng, momen odong-odong tersebut bukan sekadar hiburan sesaat. Ia menjadi pengingat bahwa pemimpin yang mau membaur dengan rakyat akan selalu dikenang, bukan karena kemewahan atau protokolnya, tetapi karena kehangatan sikap dan kedekatannya dengan masyarakat.
Dan di tengah riuhnya dinamika politik hari ini, suasana sederhana itu justru membuat banyak orang berkata pelan sambil tersenyum: “Beginilah politik kalau dibawa dengan hati.”
(Red)









