SOPPENG, newspost. web. id, — Kegiatan Pasar Ramadan yang baru saja diresmikan oleh Bupati Soppeng, Suardi Haseng, mendapat apresiasi dari masyarakat karena dinilai mampu menggerakkan perekonomian pelaku usaha kecil dan menengah. Namun, memasuki hari ketiga pelaksanaannya, kegiatan tersebut justru menuai sorotan publik setelah muncul hiburan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai budaya dan keagamaan.
Pantauan di Lapangan Gasis Watansoppeng pada 28 Februari 2026 menunjukkan adanya penampilan hiburan malam berupa joget pinggul oleh penyanyi yang memicu reaksi beragam dari masyarakat. Sejumlah warga menilai penampilan tersebut kurang pantas, terlebih menjelang bulan suci Ramadan.
Salah seorang warga Kabupaten Soppeng yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kegiatan Pasar Ramadan pada dasarnya sangat positif karena bertujuan membantu ekonomi masyarakat kecil. Namun, ia menilai konsep hiburan yang ditampilkan perlu dievaluasi agar tidak bertentangan dengan norma budaya dan religius masyarakat.
“Kami sangat mendukung Pasar Ramadan karena memberikan ruang bagi pelaku UMKM. Tetapi hiburan seperti itu dinilai kurang menghargai nilai keagamaan dan etika, apalagi menjelang Ramadan,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah dapat melakukan pengawasan dan penyesuaian terhadap konsep kegiatan, khususnya dalam pemilihan jenis hiburan, agar tetap selaras dengan tujuan utama Pasar Ramadan, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan nilai budaya dan kearifan lokal.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat juga mendorong pihak penyelenggara untuk segera melakukan evaluasi demi menjaga kondusivitas serta citra kegiatan yang telah dinilai sukses pada awal pelaksanaannya. (Pettaduga)








